Sorry, you need to enable JavaScript to visit this website.

Ventral Alopecia – Is it Dermatological, Behavioral, or Medical?

By Danny W. Scott  
Presented at the 9th World Congress of Veterinary Dermatology, Sydney, October 2020

 

Gambar 1

Alopecia atau kebotakan pada kucing merupakan masalah yang cukup sering dikeluhkan oleh pemilik kucing. Walaupun tidak bersifat fatal, masalah ini  seringkali mengganggu pemilik dari segi estetik, karena semua pemilik  pasti sangat ingin agar bulu kucingnya terlihat lebat, mulus dan indah.

Kebotakan dapat terjadi di bagian mana saja dari tubuh kucing. Kali ini kita ingin memfokuskan perhatian kita hanya pada kebotakan yang terjadi di bagian dada dan perut kucing yang tidak disertai gejala klinis berupa radang, kemerahan, sisik, kerak, dll. pada kulitnya.

Kebotakan pada bagian dada dan perut kucing dapat disebabkan oleh  berbagai faktor yang dapat dikelompokkan dalam: (a) faktor yang berasal dari kulit (dermatological), (b) faktor yang berkaitan dengan penyakit umum yang terjadi pada tubuh kucing (medical) dan (c) faktor masalah tingkah laku (behavioural).

Gambar 2

Seperti yang terlihat pada Gambar 2, penyebab yang paling sering dalam kelompok dermatological adalah atopic dermatitis dan food allergy, dalam kelompok medical yang paling sering adalah hyperthyroidisme, sedangkan dalam kelompok behavioral adalah behavioral (psychogenic) overgroomning.

Dari berbagai laporan dijumpai bahwa pada dasarnya 97% masalah kulit ini terutama berkaitan dengan masalah alergi dan hanya 3% akibat bulu rontok. Karena itu pada awal pemeriksaan kasus semacam ini, kita harus dapat memastikan apakah kebotakan tersebut akibat bulu rontok  atau overgrooming akibat rasa gatal. 

Pemeriksaan tersebut biasanya meliputi penggalian tentang riwayat terjadinya penyakit, pemeriksaan fisik (baik yang berkaitan dengan kulit maupun bagian tubuh lainnya) dan trichografi (pemeriksaan kondisi bulu/rambut di bawah mikroskop) untuk memastikan apakah kebotakan terjadi karena rontok dengan sendirinya atau akibat overgrooming. Perlu diperhatikan bahwa pemilik seringkali tidak tahu apakah botaknya akibat rontok dengan sendirinya atau overgrooming, karena kucing biasanya melakukan tindakan groomingnya secara sembunyi-sembunyi. Untuk membuktikan adanya overgrooming, kita dapat meraba adanya bulu yang patah di daerah yang botak, melihat kucing memuntahkan hair ball, atau mendapati adanya kandungan serat bulu dalam fesesnya. Bukti yang paling meyakinkan tentunya diperoleh dari hasil pemeriksaan trichografi.

Gambar 3

Kasus dimana bulu rontok dengan sendirinya. Mula-mula kita harus memastikan bahwa bulu di daerah yang bermasalah mudah dicabut atau tidak, dengan melakukan pencabutan di beberapa tempat dan membandingkan antara daerah yang bermasalah dan yang tampak sehat. Pada pemeriksaan trichografi kita akan melihat apakah bulu rontok dengan sendirinya, yaitu sebagian besar ujung rambutnya runcing dan kurang mengandung melanine (fase telogen), atau rontok akibat trauma, yaitu sebagian besar dalam fase anagen (akarnya bulat dan banyak mengandung melanin) (Gambar 3). 

Penyebab utama kondisi ini adalah hyperadrenocorticism (Cushing’s disease),  yang dapat terjadi secara spontan akibat kelainan kelenjar pituitary (80%) atau adrenal atau iatrogenik, sebagai akibat penggunaan obat-obatan glukokortikoid atau progesteron secara berlebihan. Biasanya, diagnosanya ditetapkan berdasarkan riwayat penyakit dan pemeriksaan fisik yang menyeluruh. Dalam hal ini, hasil pemeriksaan darah dan urinalisis tidak banyak membantu untuk menentukan diagnosa karena hasilnya sangat bervariasi. 

Penyebab lain  dari kondisi ini adalah Feline  Paraneoplastic Alopecia, yang berkaitan dengan berbagai penyakit tumor ganas. Dalam hal ini riwayat penyakit dan pemeriksaan fisik dapat mengarahkan diagnosa, yang apabila dilanjutkan dengan biopsi kulit akan dapat memastikan adanya penyakit tertentu. Sayangnya, pemeriksaan darah dan pemeriksaan radiologis tidak banyak membantu untuk menentukan jenis tumor penyebabnya. Diagnosa pasti hanya bisa dilakukan setelah dilakukan exploratory laparotomy dan/atau nekropsi. Pada kasus ini, pemeriksaan trichografi menunjukkan adanya kekerdilan dari folikel rambutnya disertai penebalan lapisan permukaan kulit. Prognosa kondisi ini biasanya buruk.

Kasus dimana bulu rontok akibat trauma. Penelitian di Amerika Serikat menunjukkan bahwa 45,8% kucing penderita atopic dermatitis dan 41,7% kucing yang mengalami food allergy dermatitis mengalami kebotakan pada bagian dada dan perutnya yang tidak disertai oleh keradangan akibat overgrooming karena merasa gatal pada kulitnya. Bulu pada bagian yang botak terlihat dalam berbagai ukuran panjang, yang tidak mungkin terjadi pada rambut yang mengalami kerontokan secara bersamaan. Rambut di daerah tersebut juga tidak mudah dicabut. Jika diperiksa dibawah mikroskop, kulit di daerah tersebut tampak normal, sehingga kita tidak dapat memastikan penyebab alerginya. 

Pada kucing yang tidak sembuh dengan pemberian obat-obatan anti alergi, kita harus waspada terhadap adanya parasit pada permukaan kulitnya (ectoparasit), khususnya Demodex gatoi dan Otodectes sp.. Diagnosanya ditetapkan dengan melakukan penggalian riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, kerokan permukaan kulit, uji apung feses dan melihat responnya terhadap terapi dengan antiparasit. 

Penyebab kebotakan akibat trauma yang terakhir adalah behavioral (psychogogenic) alopecia yang terjadi akibat kucing menjilati bulunya secara berlebihan karena merasa cemas atau tidak nyaman. Diagnosanya bisa ditetapkan setelah kita menyingkirkan semua kemungkinan penyebab alergi kulit pada kucing.

Dengan pendekatan secara sistematik seperti di atas diharapkan diagnosa masalah kebotakan pada bagian dada dan perut kucing dapat ditetapkan secara lebih akurat.

Editor: Iwan Willyanto, Drh, MSc, PhD
InI Veterinary Service, Surabaya